Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi
Ketika dunia dalam keheningan, terorisme menggoncangnya dengan
penuh kekuatan. Sejarahnya yang selalu haus darah, sungguh menjadi
ancaman bagi kehidupan. Tiada hunian yang dirambahnya pasti diliputi
keresahan. Terorisme benar-benar menggemparkan, menakutkan, dan
mengerikan. Ironinya, terorisme diidentikkan dengan Islam. Padahal Islam
mengutuk terorisme dan berlepas diri darinya.
Pada beberapa tahun terakhir ini, dunia digoncang oleh serangkaian
aksi teror1 bom yang mengerikan. Umat manusia terenyak bingung saat
mendengar atau menyaksikan episode horor yang menakutkan itu. Aksi teror
bom yang dilakukan secara rahasia, baik dengan meledakkan bom waktu,
bom bunuh diri, maupun dengan sebatas pemberian ancaman bom berupa
kiriman paket, parcel, dan surat. Praktik batil yang tak selaras dengan
Islam yang murni dan fitrah yang suci. Akibatnya, tak sedikit kerugian
yang diderita oleh umat manusia. Gedung – gedung luluh lantak,
mayat-mayat bergelimpangan, korban luka-luka pun harus hidup menderita.
Demikian pula kerugian yang bersifat psikis, sangat terasa dalam
kehidupan. Kegalauan jiwa muncul walau berada di tengahtengah hunian
yang ditinggali. Sebuah tragedi kemanusiaan yang telah menodai lembaran
sejarah dengan penderitaan dan kehancuran. Tragisnya, aksi teror bom
terus merambah banyak negeri, termasuk Indonesia, tanah air kita. Semoga
Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menjaganya, membimbing para
pemimpinnya di atas Islam, dan menjadikan masyarakatnya sebagai
komunitas insan yang beriman lagi bertakwa. Amiin….
Terorisme Bukan dari Islam
Tak dimungkiri bahwa tragedi 11 September 2001 benar-benar
menggemparkan dunia. Sebuah aksi teror yang terhitung perdana dalam
kisaran dasawarsa (sepuluh tahun) terakhir ini. Aksi teror yang
dilakukan oleh dua pesawat Boeing 767 yang menabrakkan diri ke menara
kembar WTC dan Pentagon New York, Amerika Serikat (AS). Kedua pesawat
itu meledak saat menabrakkan diri ke menara kembar yang tinggi
menjulang. Kebakaran pada bagian atas gedung yang dibangun dengan
konstruksi baja itu tak dapat dihindarkan. Tak lama kemudian, menara
kembar WTC yang megah itu pun hancur luluh lantak. Sekitar tiga ribu
jiwa tewas, dan tak sedikit jumlah korban luka-luka. Muncul pertanyaan,
siapakah pelakunya? Di antara sejumlah nama yang disebut-sebut berada di
balik tragedi itu adalah Usamah bin Laden dengan jaringan al-Qaedanya.
Dengan jitu media massa Barat (baca: kafir) memanfaatkan peluang emas
tersebut sebagai modal utama untuk menebar opini
bahwa Islam adalah agama terorisme dan melahirkan para teroris. Tak
sebatas itu, AS dan sekutunya menjadikan peluang emas itu sebagai alasan
kuat untuk melakukan berbagai operasi teror berskala internasional.
Siapakah korbannya? Di antara korbannya adalah rakyat Afghanistan yang
notabene muslim. Mereka dibombardir oleh AS dan sekutunya dengan amat
kejam. Alasannya sederhana, memburu para teroris yakni Usamah bin Laden
dan jaringan al-Qaedanya yang ditengarai bersembunyi di sana. Akibatnya,
tak sedikit dari kaum muslimin Afghanistan yang menjadi korban.
Jumlahnya pun tak sebanding dengan jumlah korban WTC. Selang setahun
kemudian, aksi teror bom beralih ke tanah air. Tepatnya pada tanggal 12
Oktober 2002 aksi peledakan bom terjadi di Legian, Bali. Sekitar 202
jiwa tewas dan ratusan orang korban luka-luka. Peristiwa ini
dikenal dengan Tragedi Bom Bali I, mengingat menyusul aksi peledakan bom
Bali berikutnya pada tanggal 1 Oktober 2005 yang dikenal dengan Tragedi
Bom Bali II. Siapakah pelakunya? Lagi-lagi
nama yang disebut-sebut dari pihak muslim. Mereka adalah Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas.
Setelah Bom Bali II, masih berlanjut berbagai aksi teror bom lainnya di
tanah air. Identifikasi pelakunya pun dari pihak muslim. Akibatnya,
muncul sebuah penilaian (paradigma) yang salah
di kalangan “masyarakat luas” bahwa Islam adalah agama terorisme.
Padahal siapa pun yang mengkaji Islam secara proporsional pasti
menyimpulkan bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin) dan bukan agama terorisme.
Terorisme Bukan Jihad
Para pembaca yang mulia, bila mencermati berbagai aksi teror yang
mengatasnamakan Islam sejak zaman dahulu hingga hari ini, faktor utama
yang melandasi para pelakunya adalah prinsip keyakinan (ideologi), bukan
harta atau yang semisalnya. Mereka meyakini bahwa berbagai aksi teror
itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Adapun
pelakunya menyandang predikat mujahid, bukan teroris. Padahal jihad
tidak bisa dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan
yang harus dimengerti
dengan baik dan benar. Lebih dari itu, jihad harus dilakukan bersama
penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu.2
Cobalah perhatikan serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kelompok
sesat Khawarij terdahulu. Tidaklah mereka melakukannya kecuali karena
keyakinan jihad, bukan karena harta atau yang semisalnya. Padahal
serangkaian aksi teror yang mereka lakukan itu targetnya adalah
orang-orang pilihan dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Perhatikanlah paparan ringkas tentang serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh kaum Khawarij berikut ini.
1. Pengepungan terhadap rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka saat itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.
2. Pembantaian terhadap Abdullah bin Khabbab bin al-Art rahimahullah,
saat itu beliau adalah Gubernur Madain (sebuah kota di Irak, arah
tenggara Baghdad) pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Kaum Khawarij membunuhnya dan membunuh budak wanitanya yang sedang hamil saat
melewati wilayah kekuasaan mereka. Tak hanya itu, mereka merobek perut
budak wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pemimpin
utama mereka saat itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats
at-Tamimi.
3. Pembunuhan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,
saat beliau keluar rumah hendak mengimami shalat subuh. Pelakunya
adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam
al-Muradi.
>4. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu selaku Gubernur Syam (sekarang meliputi Palestina, Syiria, Lebanon, dan Yordania, –pen.). Operasi tidak berhasil, karena
beliau berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Yang menjadi korban adalah seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut.
5. Upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu
selaku Gubernur Mesir. Operasi tidak berhasil, karena beliau
berhalangan hadir mengimami shalat subuh di hari yang sama dengan hari
terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sebagai korbannya, seseorang yang mewakili beliau sebagai imam pada shalat subuh tersebut. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t, 12/296—298; al- Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, 7/281; dan Lamhatun
‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy- Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah,
hlm. 31—33)3 Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional
yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional saat itu.
Tidak tanggung-tanggung, target operasi mereka adalah dua khalifah mulia
kaum muslimin yang keduanya adalah menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah memetik janji surga dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilakukan kecuali karena satu keyakinan bahwa para korban operasi itu telah kafir dan aksi yang mereka lakukan itu adalah jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahul musta’an.
Bagaimanakah dengan serangkaian aksi teror bom yang terjadi
belakangan ini? Apa landasan para pelakunya? Jawabannya, tak beda dengan
kaum Khawarij terdahulu itu. Landasannya adalah ideologi “jihad”. Mari
kita simak penuturan mereka yang terlibat dalam serangkaian aksi teror
bom tersebut. Usamah bin Laden berkata dalam sebuah kaset yang berjudul “Bersiapsiaplah Untuk Jihad”, “… Hendaknya setiap muslim segera terjun ke medan jihad memerangi orang-orang Yahudi
dan Amerika! Sesungguhnya ini termasuk kewajiban yang paling wajib,
dan termasuk ibadah yang paling besar…. Tidak perlu kalian bermusyawarah
dengan seorang pun untuk membantai Amerika.
Lakukanlah (berjihadlah) dengan berkah dari Allah Subhanahu wata’ala!”
Bagaimana realisasi dari jihad yang dimaksud? Simaklah ucapan Usamah
bin Laden berikut ini, “Aku memandang dengan penuh pemuliaan dan
penghormatan kepada para pemuda mulia yang telah menghilangkan kehinaan
dari umat ini, baik mereka yang telah melakukan peledakan bom di kota
Riyadh (ibu kota Saudi Arabia), peledakan di kota Khubar (Saudi Arabia),
atau peledakan-peledakan di Afrika Timur, dan yang semisalnya.” Adapun
Imam Samudra—termasuk pengagum Usamah bin Laden—berkata, “Konyolnya, ada
ulama dari kalangan kaum muslimin yang termakan celotehan
vampire-vampire tersebut sehingga dengan seenaknya berfatwa, ‘Apa pun
alasannya, Islam mengutuk tindakan tersebut. Islam tidak membenarkan
memerangi warga sipil dari bangsa dan agama apa pun!’.” Ucapan senada
terdengar juga ketika terjadi operasi jihad WTC dan Pentagon pada 11 September 2001.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 110) Imam Samudra berkata terkait dengan aksi teror bom Bali, “Bom Bali adalah salah satu jihad yang harus dilakukan, sekalipun oleh segelintir kaum muslimin.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 115) Demikianlah, serangkaian aksi teror bom berskala internasional itu mereka yakini sebagai jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Padahal jauh panggang dari api. Aksi teror bom itu bukan jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala.
Aksi teror bom itu tak sesuai dengan prinsip salaf, generasi terbaik
umat ini. Justru tindakan tersebut adalah napak tilas gerakan Khawarij,
sekte sesat pertama yang muncul dalam ranah kehidupan Islam.4 Mengapa
dikatakan napak tilas gerakan Khawarij? Bukankah target operasi kaum
Khawarij adalah kaum muslimin, bahkan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
sedangkan para aktor bom tersebut target operasinya adalah orang-orang
kafir, AS dan sekutunya? Ya, itu sebagian target mereka. Tetapi,
bukankah kemudian teror itu juga dilakukan di negeri-negeri kaum
muslimin, bahkan sebagiannya menjadikan kaum muslimin sebagai target?
Ketahuilah bahwa kondisi para aktor bom tersebut tak jauh berbeda
dengan kondisi kaum Khawarij terdahulu. Mereka sama-sama terlibat dalam
serangkaian aksi teror berskala internasional yang meresahkan umat.
Apabila merujuk pada kamus, berarti mereka itu sama-sama disebut
teroris. Dalam hal target operasi, hakikatnya tak jauh berbeda juga.
Jika Amerika dan sekutunya dinilai kafir oleh para aktor bom tersebut,
demikian pula Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia, mereka pun dinilai kafir oleh kaum Khawarij. Jadi, target operasi keduanya sama-sama orang
kafir di mata para eksekutor teroris itu. Pernyataan bahwa target
operasi para aktor bom tersebut adalah orang kafir, hakikatnya hanya
kamuflase saja. Bukankah di antara korban peledakan yang dilakukan oleh
para aktor bom tersebut baik dalam tragedi Khubar (Saudi Arabia) maupun
bom Bali I & II adalah kaum muslimin?! Entahlah, jika mereka semua
juga dihukumi sebagai orang kafir! Lalu, apa yang membedakan mereka
dengan kaum Khawarij terdahulu yang menghukumi Khalifah Ali bin Abi
Thalib dan para sahabat yang mulia sebagai orang kafir?! Bahkan, mereka
lebih sadis
dan kejam dibandingkan kaum Khawarij terdahulu. Mengingat korban kaum
Khawarij bersifat spesifik pada orangorang yang ditarget saja,
sedangkan korban para aktor bom tersebut bersifat
sporadis dan membabi buta. Para wanita, anak-anak, dan semisalnya
dari kalangan lemah pun tak urung jadi korbannya. Kalau kaum Khawarij
terdahulu dengan sadis merobek perut seorang wanita
muslimah untuk mengeluarkan janinnya, maka bom para teroris itu
dengan sadis dapat menghancurkan tubuh korbannya berkeping-keping dan
meluluhlantakkan gedung-gedung yang kokoh. Berikutnya, jika diandaikan
bahwa korban pengeboman itu adalah orang kafir semata (padahal ada yang
muslim), maka dari jenis kafir apakah mereka? Bukankah korban pengeboman
tersebut mayoritasnya dari jenis orang kafir yang tidak boleh dibunuh
dalam syariat yang mulia ini?! Sebagian mereka dari jenis kafir musta’min yaitu
orang kafir yang berkunjung/wisata ke negeri muslim setelah mendapatkan
jaminan keamanan dari pemerintah kaum muslimin dalam batas waktu
tertentu. Sebagian lagi dari jenis kafir mu’ahad yaitu orang
kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri, namun terikat perjanjian
dengan kaum muslimin untuk tidak saling menyerang. Sebagian yang lain
dari jenis kafir dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri
muslim dan mendapatkan jaminan dari pemerintah kaum muslimin untuk hidup
secara aman. Demikianlah tiga jenis orang kafir yang tak boleh dibunuh
dan tak boleh pula dirampas hartanya, sebagaimana disebutkan dalam
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih
dan dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam berbagai
karya tulis mereka. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t
berkata, “Jiwa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk dibunuh adalah jiwa yang terjaga, yaitu jiwa seorang muslim, seorang kafir dzimmi, kafir mu’ahad, dan kafir musta’min.” (al-Qaulul Mufid ala Kitabittauhid 1/38)
Melacak Akar Keislaman Para Teroris
Apa yang telah lalu merupakan sepenggal catatan tentang terorisme dan
korelasinya dengan kaum Khawarij terdahulu. Tentunya bila kita lebih
giat mempelajari sejarah mereka, niscaya akan lebih banyak catatan
berharga tentang terorisme dan para teroris itu. Setidaknya terkait
dengan akar keislaman yang selalu dipegang erat oleh mereka dari masa ke
masa. Berikut ini adalah tiga akar kekeliruan mendasar yang telah
menjerumuskan para teroris Khawarij ke dalam lumpur terorisme
yang hitam dan mengerikan itu. Mudah. mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita semua darinya.
Pertama: Akidah Takfir
Terorisme tak bisa dipisahkan dari akidah takfir, yaitu sikap mudah
mengafirkan orang lain tanpa proses yang benar (syar’i). Bahkan,
berbagai aksi teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti
penculikan, pembunuhan, pengeboman, pemberontakan, dan semisalnya, baik
yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok, mayoritasnya
disebabkan oleh akidah takfir ini. Menurut sejarah, akidah takfir
diprakarsai oleh kaum Khawarij terdahulu. Dengan akidah takfir, mereka
lancang mengafirkan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia. Mereka
menghalalkan darah dan harta siapa saja yang tak sepaham dengan
mereka. Mereka melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan melancarkan berbagai aksi teror
berskala internasional. Akidah takfir dan pergerakannya terus berlanjut
secara estafet dari masa ke
masa hingga hari ini. Efeknya terhadap umat sangat berbahaya
sepanjang masa, yaitu mengafirkan orang yang tak sepaham, menghalalkan
darah dan harta mereka, melakukan serangkaian aksi teror, serta
memberontak terhadap pemerintah muslim. Apakah Usamah bin Laden dan Imam
Samudra mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu? Ya, keduanya
mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu. Simaklah penuturan
mereka berikut ini.
• Usamah bin Laden berkata, “Maka para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, dengan itulah mereka telah keluar dari agama (Islam) ini dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.” (Ceramah Terakhir untuk Rakyat Irak pada bulan Dzulhijjah 1423 H, MAT hlm. 252)
• Usamah bin Laden berkata, “Para pemerintah itu telah melanggar dua kalimat syahadat (syahadatain) dalam masalah yang paling prinsip. Yaitu sikap loyal mereka terhadap orangorang
kafir, menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai syariat, dan
persetujuan mereka untuk berhukum kepada undang-undang atheis. Maka kepemimpinan mereka itu secara syar’i sudah lama gugur dan tidak ada lagi pemerintahan Islam setelahnya.” (al-Jazeera 5-12-1423 H, MAT hlm. 252)
• Imam Samudra berkata, “23 Mei 1924, mercusuar terakhir, benteng
terakhir umat Islam, tumbang sudah… Saat Khilafah Islamiyah musnah, dunia kembali ke zaman jahiliah….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 89—90)
• Imam Samudra berkata, “Aku di jalan Islam, di jalan Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan mereka di atas jalan jahiliah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200)
• Imam Samudra berkata, “Tetapi manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang zalim, bodoh lagi lemah, malah membuat way of life sendiri, menandingi hukum Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna. Manusia telah menyekutukan hukum Allah dengan hukum buatannya sendiri. ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.’ (al-Ahzab: 72) TETAPI MEREKA ANGKUH LAGI MUSYRIK, ‘Manusia dijadikan bersifat lemah.’ (an-Nisa’: 28)… Di Indonesia, dan di mana pun, banyak kita temukan tipe manusia seperti itu. Bahkan jumlah mereka mayoritas. Mereka telah menyekutukan hukum Allah Subhanahu wata’ala dengan hukum made-in gado-gado.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200—201)
• Imam Samudra berkata , “Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang
bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini
ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, dengan perantaraan Pak Qadar, Pak Michdan, dan saudara-saudara seislam di TPM. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara.” (Aku Melawan Teroris,
hlm. 15) Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya, “Mengapa mereka
terjatuh pada akidah takfir yang sangat berbahaya itu?” Menurut
asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahsebabnya ada dua:
1. Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.
2. Ini yang terpenting, yaitu memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, –pen.). (Fitnatut Takfir,
hlm. 13) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah
menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas
niat yang jelek. (Fitnatut Takfir, hlm. 19) Demikian pula asy-Syaikh Shalih al- Fauzan hafizhahullah menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut-Tabdi’ wat-Tafsiq wat-Takfir wa-Dhawabithuha, hlm. 14)5
Kedua: Melecehkan Para Ulama Kibar (Besar)
Sejarah mencatat bahwa orangorang yang terbelenggu akidah takfir,
tidak akan berjalan di atas bimbingan para ulama kibar (besar) dalam
menyikapi berbagai permasalahan strategis yang ada di tengah umat.
Lihatlah kaum Khawarij terdahulu! Mereka mencampakkan bimbingan para
sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para ulama kibar
(besar) di masa itu. Apa sebabnya? Tidak lain karena para sahabat
tersebut tidak menyetujui penyimpangan-penyimpangan yang ada pada
mereka. Bagaimanakah dengan Usamah bin Laden dan Imam Samudra dalam hal
ini? Ternyata mereka tak jauh berbeda
dengan kaum Khawarij terdahulu. Untuk lebih jelasnya, simaklah penuturan mereka berikut ini:
• Usamah bin Laden, saat memperingatkan umat dari fatwa-fatwa
asy-Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Baz t, berkata, “Oleh karena itu, kami
mengingatkan umat dari fatwa-fatwa batil seperti ini yang tidak
memenuhi syarat.” (Surat Usamah bin Laden, tanggal 28-8-1415, MAT hlm. 264)
• Imam Samudra berkata, “Pada saat mana ulama-ulama kian asyik
tenggelam dalam tumpukan kitab-kitab dan gema pengeras suara. Mereka
tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan, dan penjajahan terhadap
kiblat dan tanah suci mereka….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 93)
• Imam Samudra berkata, “Ia (yakni Raja Fahd) dan gerombolan
pembisiknya mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang—dengan segala
hormat—kurang mengerti trik-trik politik….” (Aku Melawan Teroris,
hlm. 92) Mengapa para ulama kibar (besar) tersebut disikapi oleh mereka
sedemikian rupa? Jawabannya sama, yaitu karena para ulama kibar (besar)
tersebut tidak menyepakati penyimpanganpenyimpangan yang ada pada
mereka. Subhanallah, setali tiga uang. Oleh karena itu, ketika para ulama kibar (besar) dicampakkan, tentu saja yang akan dijadikan rujukan adalah ruwaibidhah yaitu orang dungu yang berani berbicara tentang urusan strategis umat. Apabila demikian, maka jaminannya adalah kesesatan.
Ketiga: Akidah Khuruj alal Hukkam
Akidah khuruj alal hukkam, yaitu keyakinan boleh/wajib memberontak terhadap penguasa kaum muslimin. Sejarah mencatat bahwa akidah khuruj alal hukkam galibnya
merupakan paket lanjutan dari akidah takfir, dan pelecehan terhadap
para ulama kibar (besar). Demikianlah proses yang terjadi pada kaum
Khawarij ketika memberontak terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Akidah khuruj alal hukkam sangat bertentangan dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, bahkan sebagai sebab terbesar bagi hancurnya kehidupan umat manusia.
Al-Imam Ibnul Qayyim Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan
harapan dapat berbuah kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala
dan Rasul-Nya. Jika pengingkaran terhadap kemungkaran itu memunculkan
kemungkaran yang lebih besar (memperparah keadaan) serta lebih dibenci
oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, pengingkaran tersebut tidak boleh dilakukan walaupun Allah Subhanahu wata’ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya.
Di antaranya pengingkaran terhadap para raja dan penguasa (kaum muslimin) dengan pemberontakan. Sungguh, hal itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah sepanjang masa.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/
6) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Oleh karena itu,
di antara prinsip Ahlus Sunnah yang masyhur adalah tidak boleh
membangkang terhadap para penguasa dan tidak boleh pula memerangi mereka
dengan senjata, walaupun mereka berbuat zalim. Hal ini sebagaimana yang
telah dijelaskan dalam haditshadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih lagi banyak jumlahnya. Mengingat kerusakan (yang ditimbulkan oleh sikap membangkang dan memberontak, -pen.)
berupa perang dan kekacauan yang lebih parah dibandingkan kerusakan
yang ditimbulkan oleh kezaliman penguasa semata.…. Hampirhampir tidak
ada satu kelompok pun yang memberontak terhadap penguasa melainkan
kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dibandingkan kerusakan yang
hendak dihilangkannya.” (Minhajus Sunnah, 3/391)6
Demikianlah sepenggal catatan tentang terorisme, semoga menjadi pelita
dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Amiin….
(www.asysyariah.com)