MUSUH-MUSUH DAKWAH TAUHID

- 5⃣ -
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh)
----------------------------

3⃣ Permusuhan kaum Shufiyyah (lanjutan)

Kemudian diikuti pula oleh seorang orientalis lainnya yang bernama William W. Hunter dalam bukunya Al-Muslimun fil Hind (The Indian Musalmans, dicetak pada tahun 1871 M, kemudian dicetak kedua kalinya pada tahun 1945 M) yang telah banyak menukil dari seniornya, yaitu T.E. Ravenshaw 13.

Beliau juga dituduh sebagai penganut inkarul hadits (aliran yang mengingkari hadits); sebagaimana dituduhkan Ahmad Abdullah Al-Haddad Ba‘alawi di dalam kitabnya Mishbahul Anam. Tentunya tuduhan tersebut sangatlah ANEH. Karena Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah SELALU BERHUJJAH DENGAN HADITS-HADITS Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam banyak karya beliau, yang telah banyak diketahui oleh umat Islam.
Namun begitulah kaum Shufi, tidak malu dan segan untuk BERDUSTA untuk menjauhkan umat dari dakwah tauhid.

Tuduhan kepada Al-Amir Su’ud bin Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Su’ud -salah satu pembela dan pembawa bendera dakwah tauhid yang menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan segala yang dimilikinya dalam membela dakwah yang mulia tersebut – bahwasanya beliau telah menghancurkan kubah yang dibangun di atas kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal itu sama sekali tidak pernah terjadi.

Memang benar beliau dan para pendukungnya telah menghancurkan beberapa kubah yang berada di Najd dan sekitarnya, namun sedikitpun mereka belum pernah menyentuh bangunan kubah di atas kubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun mereka semua yakin bahwa bangunan kubah tersebut tidak diridhai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertentangan dengan syariat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:
“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dilaburnya sebuah makam, dan diduduki, serta dibangun di atasnya.” (HR. Muslim 970)
Hal ini dipertegas pula dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau mengutus Abul Hayyaj, “Maukah engkau aku utus dengan sebuah misi yang dengan misi tersebut pula aku diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Yaitu:
“Jangan kau biarkan satu gambarpun kecuali kau musnahkan, dan jangan kau biarkan ada satu kuburan pun yang menonjol kecuali kau ratakan.” (HR. Muslim no. 969)

↪ Namun demikianlah musuh-musuh dakwah tauhid memutarbalikkan fakta, sehingga beberapa sejarawan orientalis senang dengan disebutkannya beberapa kisah dusta tersebut. Hal ini sebagaimana didapati dalam beberapa buku sejarah karya mereka, di antaranya tulisan yang berjudul Hadhir Al-‘Alam Al-Islami (The New World of Islam) karya L. Stoddard (1/64), Dictionary of Islam “Wahhabiyah” karya Thomas P. Hughes (hal. 660), Mustaqbal Al-Islam (Future of Islam) karya Lady Anne Blunt (hal. 45). Dan masih banyak sejarawan orientalis lainnya yang memanfaatkan kedustaan serta tuduhan batil kaum Shufi terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk semakin mencemarkan dakwah tauhid yang beliau dakwahkan. Dan masih banyak tuduhan-tuduhan dusta yang lainnya.

Namun kami simpulkan kedustaan-kedustaan tersebut dengan menukilkan sebuah surat yang ditulis oleh putra beliau yang bernama Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, yang ditujukan kepada penduduk Makkah pada tahun 1218 H / 1803 M. Beliau berkata:
❎ “…Adapun sekian perkara dusta atas nama kami dalam rangka untuk menutupi al-haq, di antaranya tuduhan bahwa kami menafsirkan Al-Qur`an dengan logika kami serta mengambil hadits-hadits yang sesuai dengan pemahaman kami… Dan bahwasanya kami merendahkan kedudukan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pernyataan kami bahwa-sanya Nabi telah menjadi debu di kuburnya dan tongkat salah seorang kami lebih bermanfaat dari beliau, dan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki syafaat, serta berziarah kepadanya tidak disunnahkan…, dan bahwasanya kami adalah beraliran mujassimah, serta mengkafirkan manusia secara mutlak (tanpa batas, pent)… Maka ketahuilah bahwa seluruh kisah khurafat tersebut di atas dan yang semisalnya… Jawaban kami terhadap setiap permasa-lahan tersebut di atas adalah dengan ucapan:
“Maha Suci Engkau (Wahai Rabb kami) sesungguhnya ini adalah kedustaan yang sangat besar.” (An-Nur: 16)
—sekian dari kitab Al-Hadiyyatus Sunniyyah, hal. 46

bersambung, insya Allah

Sumber
http://manhajul-anbiya.net

•••••••••••••••••••
Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~

MUSUH-MUSUH DAKWAH TAUHID

��- 4⃣ - ��
✏ (ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Ba'abduh)
----------------------------

3⃣ Permusuhan kaum Shufiyyah

���� Musuh berikutnya yang dengan gencar memusuhi dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah orang-orang dari aliran tashawwuf/Shufi yang merasa kehilangan pamor di hadapan para pengikutnya.
✅ Dengan dakwah tauhid, banyak syubhat dan kerancuan kaum Shufi yang terbongkar dan terbantah dengan hujjah-hujjah yang terang dan jelas, yang disampaikan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, murid-murid, serta para pendukungnya.

✅ Berbagai macam bid’ah dan amalan-amalan yang menyelisihi sunnah Rasul serta amalan-amalan yang tercampur dengan berbagai praktek kesyirikan yang selama ini mereka tebarkan di daerah Najd ataupun Hijaz (Makkah dan Madinah), mulai tersingkir dan dijauhi umat.

✅ Demikian juga praktek amalan ibadah haji yang selama ini telah mereka penuhi dengan bid’ah dan amalan yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berbagai upaya untuk memakan harta umat dengan cara batil, juga terhalangi dengan adanya dakwah tauhid tersebut.

���� Ini semua membuat mereka geram dan marah terhadap dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan murid-muridnya. Itu semua mendorong mereka untuk berupaya menjauhkan umat dari dakwah beliau. Mereka sebarkan berbagai macam kedustaan tentang beliau dan dakwah tauhid yang disampaikannya.

���� Kaum Shufi bersama orang-orang kesultanan Turki dan Mesir serta kaum kafir Eropa menciptakan sebuah julukan terhadap dakwah beliau dengan GERAKAN DAKWAH AL-WAHHABIYYAH serta melukis-kannya sebagai madzhab baru di luar Islam. Nama Al-Wahhabiyyah adalah sebuah nama yang dinisbahkan kepada ayah Asy-Syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab. Padahal jika mereka mau jujur, semestinya mereka menjulukinya dengan Muhammadiyyun, yaitu nisbah kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah secara langsung. Namun hal itu sengaja mereka lakukan dalam rangka memberikan kesan lebih negatif terhadap dakwah beliau. Karena jika memakai julukan Muhammadiyyun akan terkesan di banyak kalangan bahwa ini adalah sebuah madzhab yang baik.
�� Bahkan mereka tak segan-segan mengucapkan kata-kata kotor untuk memuluskan tujuannya, yang sebenarnya kita sendiri malu untuk mendengar dan menukilkan kalimat tersebut. Namun dengan sangat terpaksa kami nukilkan salah satu contoh kata-kata kotor dan menjijikkan yang diucapkan tokoh-tokoh Shufi.

������ Di antaranya adalah yang diucapkan salah satu tokoh mereka yang dikenal dengan nama Muhammad bin Fairuz Al-Hanbali (meninggal 1216 H) dalam rekomendasinya terhadap kitab Ash-Shawa’iq war Ru’ud, sebuah kitab yang penuh dengan tuduhan dan kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, karya seorang tokoh Shufi yang bernama Abdullah bin Dawud Az-Zubairi (meninggal 1225 H). Dalam rekomendasinya itu, Ibnu Fairuz berkata:
❌�� “…Bahkan mungkin saja Asy-Syaikh (yakni ayah Asy-Syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab, pent.) pernah lalai untuk menggauli ibunya (yakni ibu Muhammad bin Abdul Wahhab, pent.) sehingga dia didahului oleh setan untuk menggauli isterinya. Jadi pada hakekatnya setanlah ayah dari anak yang durhaka ini.”

⛔ Sebuah ucapan kotor yang penuh kekejian dan kedustaan terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah bahkan terhadap ayah dan ibunya.

�� Mereka juga menuduh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dengan berbagai tuduhan dusta, di antaranya: Tuduhan bahwasanya beliau mengklaim An-Nubuwwah (yakni mengaku sebagai nabi), sebagaimana disebutkan dalam kitab Mishbahul Anam karya Ahmad Abdullah Al-Haddad Ba’alawi (hal. 5-6). Dan dinyatakan pula oleh Ahmad Zaini Dahlan (meninggal 1304 H) dalam sebuah makalah kecilnya yang berjudul Ad-Durar As-Saniyyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyyah (hal. 46): “…yang nampak dari kondisi Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwasanya dia adalah seorang yang mengklaim An-Nubuwwah. Hanya saja dia tidak mampu untuk menampakkan klaimnya tersebut secara terang-terangan.”
Pernyataan semacam ini dia tegaskan juga dalam kitabnya yang lain yang berjudul Khulashatul Kalam, hal. 228-261.

�� Buku-buku Ahmad Zaini Dahlan ini, adalah buku-buku yang sarat dengan kedustaan dan tuduhan-tuduhan batil terhadap dakwah dan pribadi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Buku-buku itu, dalam kurun 60 tahun terakhir ini, sering menjadi referensi kaum Shufi di berbagai belahan bumi, termasuk di Indonesia, dalam menebarkan kedustaan terhadap dakwah tauhid yang mulia itu. Bahkan sebagian buku-buku tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

�� Lebih parah lagi, buku-buku karya kaum Shufi ini dimanfaatkan kaum kafir dan para orientalis sebagai referensi bagi mereka dalam menebarkan kedustaan terhadap dakwah mulia tersebut dan menjauhkan umat Islam darinya. Di antara mereka adalah seorang orientalis berkebangsaan Denmark bernama Caresten Nie Bury dalam bukunya (Travel Through Arabia and Other Countries In The East) namun dia tidak berhasil memasuki Najd. Sehingga ketika menulis tentang sejarah Najd, dia banyak menukil dan menyandarkan karyanya pada berita-berita yang beredar di Jazirah Arabia yang telah dipenuhi banyak kedustaan oleh para tokoh Shufi di sana.

⏳ Begitu juga salah seorang tokoh kafir yang lainnya menulis sebuah buku yang berjudul (Memorandum, by T.E. Ravenshaw). Buku ini pun dipenuhi berbagai macam kedustaan dan tuduhan-tuduhan batil terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

�� bersambung, insya Allah

Sumber
�� http://manhajul-anbiya.net

•••••••••••••••••••
���� Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~

BERILMU AKAN TETAPI....

Artikel yang masya Allah. Baca dan resapi, walaupun cukup panjang

BERILMU AKAN TETAPI....
----------------------------------

Baca sampai selesai....

Al Hasan bin Sholih bin Hayy Al Hamdhaniy wafat pada tahun 169 H.

Dia seorang yang berilmu, zuhud, wara' dan sangat tinggi rasa takutnya kepada Allah, sangat lancar dalam menghafal hadits-hadits, dan seorang yang sering menangis.

Hidup di masa-masa kemuliaan bersama para imam salaf dalam hal ilmu dan ibadah semisal Sufyan Ats-Tsauriy dan selain beliau.

Dan dia dikenal oleh para perawi-perawi hadits, sampai-sampai Imam Abu Hatim Ar Razi yang dikenal keras dalam ilmu Jarh wa Ta'dil berkata tentang dia :

"Tsiqoh, seorang penghafal yang kuat".

Perkara-perkara yang menakjubkan dari Al Hasan bin Hayy.

Cepatnya dia Menangis.

Berkata Yahya bin Abi Bukair; "Aku berkata kepadanya : 'Sifatkan (ajarkan) kepada kami cara memandikan mayat',
maka dia (Hasan bin Hayy) pun tak mampu menahan tangisnya (karena mengingat mati,-red).

Nampaknya kekhusyukan diwajahnya.

Berkata Abu Sulaiman Ad Daraniy : "Tidaklah aku melihat seorang pun yang nampak rasa takut dan kekhusyukan pada wajahnya kecuali Al Hasan bin Shalih bin Hayy.

Zuhud dan Qana'ah.

Dia berkata tentang dirinya : "Seringkali aku berada di pagi hari tanpa memiliki satu dirham pun, dan (itupun) seakan-akan dunia cenderung condong kepadaku".

Sangat Wara'

"Dia membeli seorang budak perempuan dan berkata kepada orang-orang yang ingin membeli (budak perempuan) nya; 'sungguh dia ini pernah satu kali meludah dengan darah', dia khawatir dengan itu budaknya adalah budak yang sakit yang akhirnya dia merasa menipu para pembeli.

Takutnya dari Adzab Allah.

Ketika dia membaca Ayat Allah :

'لا يحزنهم الفرغ الأكبر"

Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat).
Surah Al-Anbiya (21:103)

dan dia pun menangis dengan tangisan yang keras, bahkan dikatakan wajahnya menghijau dan menguning (saking takutnya dan tangisannya).

Banyak mentadabburi Al Qur'an.

Dia berdiri (shalat) malam dan membaca Surah An-Naba dan dia pun pingsan sampai terbit fajar dan belum selesai membaca surah tersebut.

Panjangnya shalatnya dimalam hari.

Dia senantiasa membagi malamnya, untuk dia, untuk ibunya dan saudaranya.
Maka tatkala ibunya meninggal dia pun membagi malamnya antara dia dan untuk saudaranya. Dan ketika saudaranya meninggal maka dijadikan malamnya untuk shalat sepanjang malam.

✏ Dan diantara tazkiyah/rekomendasi yang paling mulia yang dia dapatkan, diantaranya ;

Al Imam Abu Zur'ah Ar Razi :
"telah terkumpul padanya keahlian, kefaqihan, ibadah dan kezuhudan".

Akan tetapi,..❗❗

Bersamaan dengan semua itu, dari apa yang telah disebutkan,

Para imam salaf yang kokoh dalam keilmuan dan kezuhudan;
- mereka berpaling darinya,
- mereka mentabdi'nya (mencapnya sebagai Ahli Bid'ah)
- dan mentahdzir darinya

dan diantara mereka (yakni para imam salaf) meninggalkan riwayat-riwayat haditsnya, Bahkan sampai-sampai pada taraf yang sangat keras dan buruk, diantaranya :

- Berkata Ahmad bin Yunus terhadapnya :
"Andai dia (Hasan bin Hayy) tidak dilahirkan maka akan lebih baik baginya".

☝Maka kesalahan apakah yang Al Hasan telah lakukan (sehingga ditahdzir sedemikian keras ?,-pen), yang dengannya para Imam Salaf memperlakukannya sampai pada taraf mereka mengabaikan seluruh kebaikan-kebaikannya ??? serta tidak memuji dan menghormatinya ??

❌ Kesalahannya yakni :

❎ Dia MEMBOLEHKAN Khuruj 'alal Hukkam (Memberontak) dari ketaatan Penguasa yang DHZALIM.

PERHATIKAN ❗❗❗❗

Dia TIDAK KELUAR MEMBERONTAK.

Dia pun TIDAK MENYEBARKAN PENDAPATNYA.

Dia pun TIDAK MENGHASUT MANUSIA UNTUK KELUAR MEMBERONTAK.

☝Dia SEMATA-MATA HANYA BERPENDAPAT (akan bolehnya keluar memberontak,-pen).

Berkata Al Imam Adz-Dzahabi tentang dia :
"Dia berpendapat bolehnya memberontak terhadap penguasa/pemimpin pada zamannya karena KEDZHALIMAN dan berbagai KEKEJAMAN PENGUASA, akan tetapi dia TIDAK PERNAH IKUT MEMERANGI (Penguasa).

Imam Adz-Dzahabi juga berkata :
"Dia termasuk para Imamnya Islam andai dia tidak tersamarkan dengan satu kebid'ahan".

Dan mereka (para Imam Salaf) tidak tertipu dengan kekhusyukannya.

Berkata Abu Said Al Asyaj :
"Aku mendengar Ibnu Idris berkata :
'Senyumnya Sufyan Ats-Tsauri lebih kami cintai dari pingsannya Al Hasan bin Hayy".

✏ Maka faedah yang kita bisa ambil dari yang telah kita bahas, bahwa :

- Perkataan/pendapat tentang bolehnya keluar memberontak terhadap penguasa yang DHZALIM adalah BID'AH.

- Kita TIDAK BOLEH bersikap baik terhadap orang-orang yang mempunyai pemikiran tersebut.

-Kita tidak boleh diam bagaimanapun ilmu dan keutamaan yang dimilikinya.

- Para Salafus Sholeh mereka menilai seseorang dengan timbangan sunnah (sejauh mana dia mengikuti sunnah).

Mereka TIDAKLAH mengukur dengan ukuran LUASNYA KEILMUANNYA,

❎ TIDAK PULA DENGAN BANYAKNYA IBADAHNYA,

❎ TIDAK PULA DENGAN KEKHUSYUKANNYA,

❎ TIDAK PULA DENGAN SERINGNYA MENANGIS

Dan terkadang seseorang telah menjadi seorang yang berilmu namun dia terjatuh kedalam suatu kebid'ahan yang menyelisihi pokok dari pokok-pokok Ahlussunnah yang dengannya dia keluar dari Ahlussunnah dan membuatnya menjadi Mubtadi' (Ahli Bid'ah) dengannya.

SELESAI.

dinukil dari Akun Syaikh Fawwaz Al Madkhali hafizhahullah via Whatsapp.

WA SaLam

BARAKAH DAKWAH TAUHID

Bgian 1

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Luqman Baabduh)

-----------

Setiap kebenaran dan yang diridhai Allah, niscaya akan mengundang barakah-Nya. Demikian pula dakwah tauhid. Di antara bentuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya adalah dimunculkannya para ulama yang tampil untuk menegakkan Al-Haq dan mengajarkannya kepada umat, serta mengembalikan mereka kepada bimbingan Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful Ummah.

Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Sesungguhnya Allah akan munculkan untuk umat ini setiap awal/penghujung seratus tahun seorang yang memperbaharui dien.” (HR. Abu Dawud)

☀ Pada setiap generasi pun, Allah munculkan orang-orang yang akan mengemban amanah ilmu serta menjaganya dari upaya-upaya penyimpangan. Sehingga tak satu kesesatan pun yang ditebarkan di tengah umat kecuali para ulama akan tampil untuk membantahnya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari:
1⃣ Tahriful Ghalin (pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh para ekstrimis).
2⃣ Intihalul Mubthilin (Kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama)
3⃣ Ta`wilul Jahilin (Pena`wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil)."

▶ Di antara para ulama besar tersebut sekaligus sebagai salah satu Mujaddid bagi umat ini adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi An-Najdi rahimahullah.
Beliau berdakwah untuk memurnikan tauhid umat yang ketika itu telah banyak diracuni oleh kesesatan aqidah tashawwuf yang mengarah kepada kesyirikan. Berbagai bentuk praktek amalan yang menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menye-limuti negeri Najd khususnya dan negeri-negeri yang lainnya pada waktu itu. Dengan izin Allah, kemudian perjuangan beliau rahimahullah, berbagai bentuk kesyirikan dan bid’ah di negeri Najd dan sekitarnya berhasil dikikis secara perlahan. Beliau pun berupaya untuk menegakkan syariat Islam dan mengajak umat untuk beriman dengan iman yang murni sesuai dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.
✅ Iman yang bersih dari aqidah sesat wihdatul wujud, bid’ah aqidah Asy’ariyyah dalam perkara Al-Asma` wash Shifat bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kesesatan aqidah Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah, Syi’ah dan yang lainnya. Sehingga aqidah Ahlus Sunnah dan salafush shalih benar-benar tumbuh subur di negeri Najd.

☀ Dengan itu semua, beliau telah merealisasikan syarat-syarat terwujudnya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi umat ini yang termaktub dalam surat An Nur: 55, sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya.

  Memang benar telah tegak sebuah Daulah Islamiyyah yang berasaskan tauhid dan Sunnah, sebagaimana kita saksikan sekarang, yaitu Al-Mamlakah Al-’Arabiyya-tus Su’udiyyah.

⛵ bersambung,  insya Allah

Sumber
http://manhajul-anbiya.net

••••••••••••••••
Majmu'ah Manhajul Anbiya

~~~~~~~~~~~~~~~~~

TANYA JAWAB

➖➖➖➖
Saya masih bingung mengapa TV Rodja dikatakan menyimpang padahal disana dikaji kitab para ulama

❓Tanya:
Bolehkah menyekolahkan anak di SDIT punya sururi, karena pondok salafy sudah penuh dan tidak menerima santri/siswa baru.
Saya masih bingung, kenapa TV Rodja dikatakan sesat dan menyimpang, padahal disana disiarkan dan dikaji kitab ulama yang dikaji pula di pondok salafy?

⭕Jawab:
Oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari hafizhahullah

❓Ini hadir atau tidak kemarin ya? Seharian daurah, semuanya pembahasan tentang seputar masalah ini. Dan daurah-daurah sebelumnya, banyak sekali tentang hal ini.

Yang jadi masalah, ketika seorang kurang bisa memahami. Apalagi ketika membahas tentang permasalahan manhaj, dan tidak mengerti tentang bagaimana para ulama bersikap terhadap orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu.

Jadi permasalahannya bukan masalah kitab yang dikaji. Bukan itu letak permasalahannya. Kitab yang dikaji bisa sama.

⌛Saya dulu ketika di fathul mu'in, sekarang bernama WI (Wahdah Islamiyah) yang berpusat di Makassar. Yang dikaji,
kitab al ushul ats tsalatsah.

❓Siapa yang meragukan kitab al ushul ats tsalatsah? Saya kira tidak ada yang meragukan. Itu dikaji!

Tapi karena memang dasar pemikiran orang yang menerangkan, orang yang mensyarah ini memiliki pemikiran-pemikiran ikhwanul muslimin, ya syarahnya ➡diarahkan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Barakallahufiikum, itu yang menjadi masalah. 

Ketika disebut dalam syarah al ushul ats tsalatsah, karya Abdurrahman bin Al Qasim rahimahullah, itu masuk pada pembahasan tentang
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
apa yang tidak sempurna sebuah kewajiban kecuali dengan melakukan sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Itu kaidah ini, langsung diarahkan kepada pembahasan masalah khilafah, masalah pemberontakan yang dibangun diatas pemahaman khawarij. Ini yang jadi masalah.

Coba lihat kaum khawarij ini, kurang apa mereka dalam mempelajari tauhid?
Mereka belajar kitab tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah,
mereka belajar kasyfu syubhat,
mereka belajar nawaqidul islam (pembatal-pembatal keislaman).

Tapi karena memang dasar pemikiran dari guru-guru mereka tersebut, dibangun diatas pemahaman khawarij. Maka apa yang diajarkan diarahkan kepada pemahamannya, khawarij. Kitabnya sama, sama kitabnya.

Jadi ma'asyaral ikhwah rahimakumullah, yang menjadi permasalahnnya adalah
tokoh-tokoh mereka,
yang dielu-elukan oleh mereka,
yang dianggap sebagai masyaikh mereka, itu yang jadi masalah.
Para pembela ahlul bid'ah,
tokoh-tokoh ahlul hawa. Contoh saja, karena pembahasan cukup panjang kalau diulangi lagi. Ya diputar lagi kaset-kaset daurah.

Contoh saja, Firanda, siapa yang tidak kenal Firanda? Orang kalau penggemar TV Rodja, tau siapa itu Firanda? Orang ini, pembela getol ihya'ut turots. 

⌛Sebenarnya pembahasan tentang ihya'ut thurots itu sudah lama bertahun-tahun lamanya.
Penjelasan tentang kesesatannya,
penjelasan tentang penyimpangannya, dari masa-masa ketika para ulama semacam Asy Syaikh Al Albani rahimahullahu ta'ala masih hidup.

Dan ketika beliau mengomentari ihya'ut thurots, Asy Syaikh Al Albani mengatakan: "Saya memandang bahwa mereka ini sudah beralih, tidak lagi memperhatikan masalah tashfiyah wa tarbiyah".

⚪Yang menjadi inti dari manhaj salafy. At tashfiyah wa tarbiyah, membersihkan berbagai macam noda kesyirikan, kebidahan dari kaum muslimin. Lalu kemudian mendidik mereka diatas tauhid, diatas sunnah. Kata Asy Syaikh Al Albani rahimahullah, mereka sudah beralih dari manhaj tashfiyah wa tarbiyah menuju kepada politik.

Yang diistilahkan oleh Asy Syaikh Muqbil rahimahullahu ta'ala, salafy demokrasi. Mau jadi salafy, tapi arahnya ke demokrasi, salafsi. Siapa muftinya?

Abdurrahman Abdul Khaliq. Abdurrahman Abdul Khaliq, para ulama telah menulis banyak kitab, yang menerangkan tentang kesesatan orang ini. Dia mencela para ulama, bahkan guru-gurunya sendiri yang mengajari dia ketika di al jami'ah al islamiyyah dicela habis.

Dianggap para ulama itu tidak mengerti fiqhul waqi'. Maksudnya fiqhul waqi' itu, tidak mengerti fiqh kekinian. Tahunya mereka itu hanya baca kitab saja, tapi untuk menerapkan apa yang mereka baca dengan kondisi yang ada sekarang, para ulama tidak bisa.

☝Dia memuji gurunya, ahli tafsir Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah, penulis kitab adhwa' al bayan. Dia memuji-muji,
✔luar biasa kalau dia menafsirkan,
✔ketika dia menerangkan satu ayat,
✔diterangkan dari seluruh sisinya,
✔dari sisi bahasanya,
✔dari sisi penjelasan-penjelasannya.
Tapi ilmunya belum diupdate, ilmunya masih masa lalu, belum bisa diterapkan untuk masa sekarang.

Dihinakan, direndahkan para ulama, yang itu notabene adalah gurunya sendiri, dianggap tidak mengerti fiqhul waqi'. Dan itu manhaj ikhwanul muslimin.

✒Dan sayangnya itu diakui oleh Firanda dalam bukunya ketika menjelaskan tentang fiqhul waqi'. Maka dia sempat mengatakan, bahwa orang yang berpemahaman fiqhul waqi' ini adalah orang-orang yang kita kenal mereka dari kalangan hizbiyyun, dari pemahaman ikhwanul muslimin. Tapi tidak sadar, kalau sebenarnya dia sedang membantah dirinya.

Abdurrahman Abdul Khaliq salah seorang diantara yang berpemahaman fiqhul waqi' ini, yang mencela para ulama. Dan ajaran ini berasal dari Sayyid Qutb, ajaran fiqhul waqi'. Menuduh para ulama tidak mengerti tentang realita yang ada yang sedang dialami oleh kaum muslimin. Ini dari Sayyid Qutb, dan ini menjadi pemahaman Abdurrahman Abdul Khaliq yang menjadi mufti dari ihya'ut thurots.

☝Ini salah satu contoh saja, belum kita bahas yang lainnya.
Siapa itu Abul Hasan Al Maghribi?
Siapa itu Ali Hasan Al Halabi? Sering mereka undang tokoh-tokohnya.
Belum lagi diantara mereka pengagum Muhammad Al Arifi, seorang tokoh sesat dari Riyadh.

Walhasil ma'asyaral ikhwah rahimakumullah, ini sudah dibahas. Para ulama telah berbicara tentang perkara ini, dan sudah kita bahas dalam sekian banyak kajian dan daurah. Namun kadang-kadang mungkin sebagian ikhwan belum memahami, atau mungkin tidak sempat hadir, atau mungkin belum memahami.

Selama ini dia ngaji, tahunya dari Rodja. Kemudian ketika dia mengenal al manhaj salafy, dia masih bingung, bagaimana cara membedakan?

Namun seorang menyibukkan diri dengan ilmu. Apabila seorang mengikuti jenjang tingkatan ilmu, insya Allahu Ta'ala sedikit demi sedikit dia akan paham.

☝Namun yang terpenting, bahwa diantara ushul al manhaj as salafy,
✅mereka senantiasa menghubungkan ilmu mereka dengan ilmunya para ulama.
✅Mendengarkan bimbingan dan nasehat dari para ulama, dalam setiap masa.

Itulah yang menyebabkan ahlussunnah salafiyun mereka walhamdulillah selamat dari berbagai macam fitnah di setiap zaman. Sehingga ketika terjadi permasalahan, maka mereka senantiasa terhubung dengan para ulama.

✔Para ulama yang menyampaikan nasehat,
✔memberi nasehat untuk berhati-hati dari hizbiyyah,
✔berhati-hati dari penyimpangan fulan dan alan.
⚡Namun ketika seorang tidak memahami hal ini, kadang-kadang dia kaget.

Diterangkan oleh Asy Syaikh Usamah bin Su'ud Al 'Amri hafizhahullahu ta'ala bahwa kadang-kadang seorang ketika mendengarkan para ulama mentahdzir seseorang misalnya, dia kaget.

❓"Koq kenapa si fulan ditahdzir? Koq si fulan dikatakan sesat, kenapa ya?"

⌚Antum ini dimana selama ini? Tidur? Kalau seorang tidur, baru bangun, wajar berarti belum mengetahui hakekatnya. Tapi kalau selama ini tidur, dan baru bangun ketika itu, jangan langsung mencak-mencak begitu, jangan langsung marah-marah.

"Kenapa fulan ditahdzir? Kenapa fulan dikatakan sesat?"

✋Jangan! Teliti dulu! Namanya orang baru bangun kan jangan tergesa-gesa. Yang lain sudah membahas, yang lain mereka senantiasa terhubung dengan para ulama. Mengetahui kondisi orang-orang yang terfirnah.

Dia mungkin berjalan dengan dunianya, sibuk dengan bisnisnya. Ketika salah seorang ustadznya ditahdzir, kaget.

❓"Lho, koq ustadz fulan ditahdzir?"

Lha kamu selama ini dimana? Kalau sibuk bisnis, sibuk jualan, jangan tergesa-gesa. Ini perkataan para ulama, bukan hal yang ringan. Para ulama itu, ketika mereka membahas, ketika mereka menjarh, mereka menjarh diatas ilmu, mereka menjarh diatas hujjah.

✋Maka jangan tergesa-gesa mengingkari tahdzir yang datang dari para ulama disebabkan karena kejahilan kita, barakallahufiik.

Download Audio disini
http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/10/saya-masih-bingung-mengapa-tv-rodja.html

TIS | طلب العلم الشرعي